Jumat, 20 Januari 2017

Tabligh(ceramah umum, muharram, MAULID NABI)

CERAMAH I MUHARRAM,ISRA’ MI’RAJ,MAULID NABI DAN CERAMAH UMUM

Fari Ida afandi :11150321000005

Jurusan perbandingan Agama
Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah





DAFTAR ISI

CERAMAH TENTANG ISRA’ MI’RAJ………………………………………….3
CERAMAH TENTANG MAULID NABI……….………………………………..5
CERAMAH TENTANG 1 MUHARRAM……………………….………………..8
CERAMAH UMUM “MENGHARDIK ANAK YATIM”………………………10



















ISRA’ MI’RAJ

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil alamin, washolatu wasalamu ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, wa’ala alihi washohbihi ajma’in. Amma ba’du
Yang terhormat ......
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita bisa bertemu dengan bulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah, yaitu bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan atas junjungan kitanabi besar Muhammad Saw., pada keluarga dan para sahabat beliau serta semua pengikut ajaran ajaran beliau. Karena lantaran beliaulah sehingga kita mendapat petunjuk melalui ajaran ajaran islam, dan dengan demikian kita bisa membedakan mana perkara yang haq dan mana perkara yang bathil.
hadirin yang saya hormati
Pada bulan Rajab kita senantiasa mengingat kembali peristiwa yang sangat besar, dimana dalam peristiwa isra’ mi’raj itulah Rasululloh Saw menerima perintah sholat lima waktu yang asal mulanya lima puluh waktu dalam sehari semalam.
Adapun yang dimaksud dengan isra’ dalam arti bahasa adalah perjalanan dimalam hari. Namun yang dimaksud dalam agama islam adalah perjalanan Rasulullah saw. dimalam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha yang penuh berkah disekelilingnya. Hal tersebut sudah difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karrim surat Al Isra’ ayat satu yang berbunyi :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : “Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Setelah kita perhatikan sejenak, tentang ayat Al-Qur’an tersebut, maka kita bisa ambil kesimpulan, bahwa apa yang difirmankan oleh Allah tersebut telah terbukti seperti kita saksikan pada zaman sekarang ini, yakni disekeliling Masjidil Haram benar-benar diberkati dengan rizki yang melimpah serta kewibawaan yang luar biasa sehingga setiap tahun berduyun-duyun orang mengunjungi untuk menunaikan ibadah haji sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini.
Adapun yang dimaksud dengan mi’raj menurut arti bahasa adalah naik keatas dengan menggunakan tangga, namun yang dimaksud menurut syari’at agama islam adalah Allah menaikan Rasulullah saw. dari Masjidil Aqsha sampai Sidratil Muntaha, yaitu suatu tempat yang paling tinggi yang tak akan mampu manusia manapun, sekalipun menggunakan alat-alat canggih dalam kemajuan teknologi yang serba canggih ini, selain Rasulullah saw. yang telah dikehendaki oleh Allah SWT. Disanalah beliau menerima perintah shalat lima waktu yang semula lima puluh waktu dalam sehari semalam, namun dengan kemurahan Allah dimohon keringanannya hingga tinggal lima waktu, yang tidak mengurangi pahalanya lima puluh kali tersebut, yang wajib dikerjakan oleh beliau beserta segenap umat beliau.
    
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tepat peristiwa Isra’ dan Mi’raj nabi besar Muhammad saw. terjadi dengan kehendak Allah swt. pada malam dua puluh tujuh Rajab tahun 11 Hijriyah (setelah beliau diangkat menjadi Rasul (utusan Allah).
Adapun hikmah dari peristiwa tersebut adalah menanamkan kekuatan batin beliau Rasulullah saw. atas cobaan atau musibah yang menimpa pada beliau sepeninggalan paman, kakek serta istri beliau yang tercinta yang semasa hidup mereka sebagai benteng terhadap serangan musuh-musuh beliau yang berusaha menghentikan perjuangan beliau.
Selain menanamkan kekuatan batin terhadap beliau, juga memberikan ujian terhadap segenap umat islam baik dizaman Rasulullah maupun dizaman sekarang. Dengan peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut akan nampak bagi siapa yang beriman secara murni, maka akan lebih tebal imannya dengan peristiwa tersebut, karena peristiwa yang sehebat bagaimanapun tidak aka nada kesulitan apabila dikehendaki Allah SWT. Dan bagi orang yang imannya tipis akan berubah menjadi murtad, karena tidak percaya dengan peristiwa isra’ mi’raj tersebut apabila dipikir dengan akal.
Dengan demikian marilah kita pandai-pandai mengambil I’tibar (contoh) yang baik, yaitu mempertebal keimanan kita dengan mengembalikan semua kejadian yang sehebat manpun akan mudah terjadi dengan kehendak serta kekuasaan Allah SWT. Adapun sebagai perwujudan bahwa shalat itu merupakan kewajiban pokok bagi umat islam selaku umat Muhammad, maka bisa kita perhatikan lewat sabda beliau yang artinya :
“Shalat itu merupakan tiang agama (islam), maka barang siapa yang (telah) mendirikan shalat, maka dia (termasuk orang) yang telah mendirikan (membangun) agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka dia (termasuk orang) yang sungguh-sungguh merobohkan agama (islam)”.
           
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Setelah kita perhatikan isi hadits tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bahwa siapapun orangnya tidak boleh seenaknya meninggalkan kewajiban shalat, karena akibatnya merugikan diri kita sendiri, yakni akan menjadi orang yang menyesal selama-lamanya diakhirat kelak jika tidak secepatnya bertaubat (kembali) kepada Allah. Karena dianggap sebagai orang yang telah merobohkan agama Allah (agama islam). Untuk itu marilah kita berusaha sebaik mungkin dalam menunaikan kewajiban shalat sehari-hari dengan tulus ikhlas hanya mengharap keridhoan Allah semata.
  Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf.

Wabillahi taufik wal hidayah Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

MAULID NABI

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya pada saat ini kita dapat memperingati hari Mulud Nabi Muhammad SAW dalam suasana cerah, sehat walafiat tak kurang sesuatu apapun.
Semoga salam dan rahmat senantiasa terlimpah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan ke zaman terang benderang yaitu dengan tegaknya agama islam. 
 
Hadirin sekalian yang berbahagia !
 
Peringatan Maulud Nabi yang biasanya diselenggarakan secara meluas di seluruh Tanah Air kita hendaknya tidak sekedar merupakan kegiatan upaccara yang bersifat lahiriah saja, tetapi lebih dari itu hendaknya agar benar-benar merupakan kesempatan yang baik untuk merenungkan kembali dan meresapi secara mendalam arti dan makna dari lahirnya seorang Nabi dan Rasul terakhir yang membawa petunjuk dari Allah Yang Maha Agung yang memberikan suri Tauladan bagi seluruh umat manusia.
 
Hadirin sekalian yang berbahagia !
 
Pada hakikatnya, mempercayai kebenaran wahyu yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan mengikuti suri tauladan yang telah diberikan olehnya adalah merupakan inti daripada Peringatan Maulud Nabi.

Dalam hal ini Allah telah berfirman  dalam Surat Al-Ahzab : 21 :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Disamping itu Allah menegaskan lagi dengan  firmannya Surat Ali Imran ayat 31 :
 Artinya :
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
 
Dengan memperhatikan arti dan makna ayat-ayat tersebut diatas maka jelaslah bahwa Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW ini, juga merupakan kesempatan untuk mawas diri sampai dimana kesanggupan kita dalam mengikuti bimbingan dan suri tauladan yang telah diberikan oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Hadirin sekalian yang berbahagia !
 
Dalam kesempatan yang berbahagia ini ada beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama dalam rangka memetik suri tauladan yang telah dicontohkan dalam peri hidup dan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Dalam kehidupan berbangsa sebagai bangsa yang kini tengah membangun untuk menciptakan suatu hari depan yang lebih baik, banyak suri tauladan yang kita petik dari perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW baik sejak beliau masih muda maupun setelah diangkat sebagai Nabi, yaitu antara lain tauladan tentang gaya hidup sehari-hari.
 
Kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW, bukanlah terletak pada kelezatan dan kemegahan hidup lahiriah, melainkan kebahagiaan dan kenikmatan yang ditemukan dalam kesederhanaan.  Tuntutan hidup sederhana yang didukung oleh kepribadian yang teguh, budi pekerti yang luhur serta tingkah laku yang penuh kasih sayang dan lemah lembut merupakan mahkota keindahan yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad SAW.
 
Dengan memperhatikan berbagai riwayat kehidupan Nabi yang menggambarkan bagaimana gaya hidup dan pergaulan beliau dengan orang-orang disekitarnya, maka kesemuanya mencerminkan tingkah laku kesopanan dan kesederhanaan hidup.
 
Demikian apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Akhirnya

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


I MUHARRAM

ASSALAMUALIKUM WARAHMATULLAH WR.WB
Pertama – tama dan yang paling utama marilah kita senantiasa selalu bersyukur atas kehadirat Allah SWT yang mana berkat rahmat kesehatan serta keselamatan yang diberikanNya lah kita mampu berkumpul dilapangan sekolah yang sama – sama kita cintai ini dalam rangka memperingat hari besar islam yakni hari isra’ dan mi’rajnya nabi besar Muhammad SAW. Coba kita bayangkan jika Allah mencabut saja salah satu nikmat yang diberiknnya kepada kita, maka belum tentu kita mampu sampai kesekolah yang indah ini.  Kemudian shalawat serta beragkaikan salam kita hadiahkan kepada rohjunjungan alam yakni nabi Muhammad SAW. Semoga dengan selalunya kita bershalawat maka kita akan mendapatkansafaatnya di hari akhir nanti..   Baiklah saya tidak akan memperpanjang mokudimah lagi, langsung saja judul pidato saya yaitu Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Muhammad SAW  Sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwasanya saya berdiri disini bukan untuk menggurui, akan tetapi saya hanya ingin mengingatkan kembali. Karena saya sadar bahwasanya ilmu dan pengetahuan yang saya miliki masih berada jauh dibawah bapak / ibu guru sekalian.  Bapak / ibu guru serta teman – teman yang dirahmati oleh Allah SWT  Seprti yang kita ketahui bersama bahwasanya di antara hak Nabi Muhammad SAW yang disyari’atkan oleh Allah SWT atas umatnya yaitu kita adalah agar kita senantiasa salalu bershalawat dan salam untuk beliau. Allah SWT dan juga para Malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau SAW, dan Allah SWT memerintahkan kepada para hamba-Nya agar salalu mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau.   Berikut firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  yang artinya : Sesungguhnya Allah dan juga para Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan juga ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al-Ahzaab: 56)
Diriwayatkan bahwasanya makna dari shalawat Allah kepada Nabi Muhammas SAW adalah bentuk pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedangkan shalawat para Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat para ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau nabi Muhammad SAW.  Bapak / ibu guru serta teman – teman yang dirahmati oleh Allah SWT  Dalam ayat di atas, telah disebutkan oleh Allah SWT tentang kedudukan bagi hamba dan Rasul-Nya Muhammad SAW pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia “Allah SAW” memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan shalwat dan juga salam bagi segenap penghuni alam, sehingga bersatulah pujian untuk nabi Muhammad di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi).  Adapun makna dari kata Ucapkanlah salam untuknya adalah berilah nabi Muhammad SAW penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan jika kita bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW hendaklah kita menghimpun dengan salam untuk beliau. Karena itu hendaknya kita tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya saja karena mungkin untuk mempersingkat waktu kita hanya mengucapkan Shallallaahu ‘alaih yang artinya semoga shalawat dilimpahkan kepadanya ataupun hanya dengan mengucapkan alaihis salaam semoga dilimpahkan keselamatan untuknya. Hal itu karena Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk mengucapkan keduanya. Bapak/ibu guru serta teman–teman yang dirahmati oleh Allah SWT.  Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan beberapa manfaat apabila kita mengucapkan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW, dimana ada 40 manfaat yang disebutkan oleh beliau. Di antara manfaat itu adalah sebagai:
Shalawat merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT.
Bagi kita yang bershalawat kepada nabi Muhammad SAW, maka kita akan Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah SWT.
Kita akan mendapatkan safaatnya dari beliau SAW apabil kitamau bershalawat, dgn ketentuan ketika mengucapkan shalawat juga diiringi dengan permohonan kepada Allah SWT agar memberikan wasilah kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Kiamat.
Shalawat merupakan salah satu sebab diampuninya dosa-dosa kita.
Shalawat merupakan sebab Nabi Muhammad SAW menjawab orang - orang yang mengucapkan shalawat dan juga salam kepadanya.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. AMIN. Akhirnya.WASSALAMUALAIKUM WR.WB.

Ceramah umum
MENGHARDIK ANAK YATIM

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Di antara surat yang agung kedudukannya yang sering terdengar pada pendengaran kita, dan membutuhkan perenungan dan tadabbur adalah surat Al-Ma’un. Allah SWT berfirman:

أرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢)
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
          Allah SWT berfirman:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?.
Maksudnya adalah tidakkah engkau menyaksikan wahai Muhammad orang yang mendustakan hari pembalasan, baik peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya berupa balasan dan sisksaan?. Dikatakan bahwa ayat ini umum bagi setiap orang yang menjadi sasaran perintah ini, mereka itulah orang-orang yang mengingkari hari pembalasan.

Dan di antara yang mendustakan hari pembalasan itu ada yang berkata:
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 
"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?. (QS. Yasin: 78)
Allah SWT berfirman:

“Itulah orang yang menghardik anak yatim”. Maksudnya adalah Mereka yang mengahardik anak yatim, menzalimi hak-haknya, dan tidak memberinya makan, tidak berbuat baik kepada mereka. Yatim adalah orang yang bapakanya telah meninggal dan dia di bawah usia baligh baik lelaki atau wanita.
Firman Allah SWT:

“dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”.
Maksudnya adalah tidak memerintahkan untuk memberi makan orang miskin karena kebakhilan atau karena mendustakan hari pembalasan. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah SWT:
كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (QS. Al-Fajr: 17-18).
Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini adalah:
Pertama: Ayat ini menjelaskan tentang anjuran memberi makan kepada orang miskin dan anak yatim. Diriwyatkan oleh AL-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Aku bersama orang yang menanggung anak yatim seperti ini”. Dan beliau menjadikan jari telunjuk berjejeran dengan jari tengah.
Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Orang yang berusaha untuk kebutuhan wanita janda dan miskin seperti seorang mujahid di jalan Allah”, dan aku menyangka beliau bersabda: “Seperti orang yang bangun malam tanpa merasa putus asa dan orang yang puasa yang tidak pernah meninggalkannya”.
Kedua: Anjuran untuk berbuat ikhlas dalam beramal dan waspada terhadap riya dan sum’ah, sebagaimana firman Allah tentang sifat orang-orang yang beriman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8)
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9)

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (9)Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 8-9)
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Akhirnya.

WASSALAMUALAIKUM WR.WB